SERBA-SERBI KESEHATAN: October 2014

Saturday, October 4, 2014

Cara Mengatasi Anak yang Susah Diatur

Sewaktu bayi, sikecil adalah terlihat begitu menggemaskan, menginjak usia batita dikisaran usia 2-3 tahun mereka tumbuh menjadi pribadi yang begitu mengagumkan, memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar yang mana perilakunya ini tak jarang membuat ayah dan bundanya tertawa gemas. Seiring bertambahnya usia, sikecil menjadi pribadi unik yang memiliki harapan dan keinginan tersendiri dan bahkan keinginannya ini bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh ayah dan bunda.

Pada beberapa kasus, ayah dan bunda menemukan anaknya yang periang dan penurut tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang mudah meledak, sentimentil, pembangkang, hiperaktif, agresif cengeng dan beberapa sifat yang kurang disenangi lainnya. Disinilah peran dan kesabaran ayah dan bunda sebagai orang tua tengah diuji.

Namun tak perlu cemas, kita perlu memahami bahwa sifat-sifat diatas adalah hal yang normal terjadi pada anak-anak. Sebagaimana orang dewasa yang tidak selalu sempurna, sikecil juga terkadang bisa berperilaku tidak menyenangkan dan dianggap menjengkelkan. Namun hal yang terpenting adalah mengajarkan batas-batas kewajaran pada sikecil adalah tugas wajib bagi seorang orang tua.

Penyebab Anak Susah Diatur

Apabila ayah bunda menemukan sikecil yang tiba-tiba menjadi pemarah, memiliki karakter negatif dan susah diatur, sebelum memarahinya dengan membabi buta, ada baiknya ayah dan bunda introspeksi terlebih dahulu, adakah karakter yang membuat sikecil merasa kurang diperhatikan, frustasi ataupun tertekan. Karena pada dasarnya, anak yang kurang diperhatikan akan melakukan hal apa saja agar ia mendapatkan perhatian orang tuanya dan orang-orang disekelilingnya. Jadi jangan heran ketika berada dikeramaian, kemudian tiba-tiba sikecil menjadi susah diatur dan cenderung pembangkang. Selain itu, alasan lainnya adalah karena anak tersebut mengalami permasalahan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Atau bisa jadi ia adalah tipikal orang yang cenderung anti sosial yang menarik dirinya dari lingkungan.

Saat menghadapi anak yang sulit diatur, memarahinya bukanlah solusi cerdas untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, membiarkan anak terus berlaku seperti demikian, karena ayah dan bunda sudah lelah dengan perilakunya, juga bukanlah tindakan yang bijaksana. Sebagai orang tua, mendidik anak sudahlah menjadi kewajiban. Agar ayah dan bunda bisa mengatasi anak yang susah diatur.

Berikut tips pintar untuk mengatasinya :

1. Lakukan Pendekatan

Ketika anak rewel dan susah diatur, menanggapinya dengan keras dan panas tidaklah menyelesaikan masalah, sebaliknya anak malah akan semakin rewel dan sulit diatur. Ketika hal ini terjadi didean umum, maka ayah dan bunda akan sedikit kerepotan. Untuk itu, lakukan pendekatan secara halus dan mulai berikan ia nasihat yang bijak, buat ia mengerti apa yang diinginkannya bukanlah hal yang baik. jagalah kekonsistenan ayah dan bunda, seperti misalkan ketika ia menginginkan es krim, setelah ayah dan bunda melarangnya dengan mengatakan tidak, maka pertahankan hingga sikecil menurut. Dengan begitu nantinya anak akan mulai terbiasa dan menurut dengan perkataan ayah bunda.

2. Menunjukan Tekad yang Kuat

Selain konsitensi yang perlu dijaga, tekad yang kuat juga perlu ditunjukan. Saat dihadapkan pada pertengkaran yang sulit dnegan sikecil, orang tua harus senantiasa menunjukan tekad yang kuat. Hal ini penting, karena ketika kita mneyerah, meski tidak mengatakannya, anak-anak akan dapat mengetahui apakah mereka bisa menang atau tidak. Dengan tekad yang kuat anda harus memiliki kekuatan secara internal untuk menjauhkan sikecil dari hal-hal yang buruk untuknya. Anak-anak harus dapat melihat tekad dan kekuatan dari dalam diri orangtua untuk meluruskan ketika mereka salah serta mengetahui bahwa anda melakukannya atas dasar rasa sayang.

3. Buat Peraturan Khusus

Tips pintar lainnya yang bisa ayah dan bunda lakukan adalah dengan membuat peraturan khusus yang telah dibicarakan terlebih dahulu dengan sikecil. Peraturan ini tentunya memiliki konsekwensi agar anak berusaha menghindari perbuatan nakal tersebut. Semakin ayah dan bunda sabar maka anak-anak akan semakin mudah dikendalikan. Dan jangan lupa untuk memberlakukan peraturan yang telah dibuat agar sikecil tetap mengingat batasan-batasannya. Selain itu, selalu berikan ia penghargaan ketika ia melakukan hal-hal baik yakni dengan memberikannya pujian.

Dampak Buruk Untuk Perkembangan Anak Ketika Anda Menjewernya

Ketika anak melakukan kesalahan atau sulit diatur, kebanyakan orangtua akan memberikan hukuman dengan menjewer anaknya. Namun tahukah anda, kebiasaan menjewer anak dipercaya bukanlah hal yang baik untuk dilakukan karena ada beberapa mitos bahkan masalah kesehatan yang dapat terjadi saat anda sering menjewer anak anda.

Berikut ini beberapa hal buruk yang akan berdampak pada perkembangan anak ketika anda sering menjewernya ketika ia melakukan kesalahan

1. Berdampak Buruk Untuk Kesehatan Anak

Memukul dan menjewer anak dapat merusak kesehatan mental anak secara negatif karena secara tidak langsung, hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan mental anak anda. Meskipun secara umum, menjewer anak tidak meninggalkan bekas luka pada telinga anak, namun nyatanya, hal ini dapat merusak beberapa jaringan syaraf anak, meski tidak secara langsung. Untuk itu, sebaiknya hindari perilaku menjewer anak ketika mereka berbuat kesalahan, sebaliknya nasihati anak jika apa yang dilakukannya itu bukanlah perbuatan terpuji.

2. Membuat Anak Takut Pada Anda

Alih-alih mendengarkan dan menurut, memukul atau menjewer anak ketika mereka berbuat kesalahan, malah akan membuat anak menjadi ketakutan pada anda dan berbalik tidak menghormati anda. Jangan pernah meneriaki dan memarahi anak, terlebih lagi memberikannya hukuman fisik berupa jeweran. Hal ini hanya akan membuat anak merasa takut dan membentengi diri mereka kepada anda. Untuk itulah, apabila anda tidak ingin membuat anak melakukan kesalahan yang sama, maka cobalah cara lain dengan tidak menjewernya.

3. Merusak Harga Diri Anak

Menjaga anak merasa aman dan nyaman adalah tugas anda sebagai orang tua. Namun, ketika anak-anak melakukan kesalahan dan anda menghukumnya didepan orang lain, hal iani akan dapat merusak harga diri anak. Sebab ketika anak berada disekitar orang-orang yang seharusnya melindungi mereka, namun rasa aman masih belum mereka dapatkan, hal ini akan malah menambah kekhawatiran anak dan merusak harga dirinya. Yang mana, hal tersebut dapat memberi efek negatif pada perkembangan mental anak dan menghalangi rasa aman yang mereka rasakan saat bersama kita.

4. Melahirkan Anak yang Sering Berbohong Kepada Anda

Jika anda sering kali memberikan hukuman seperti memukul dan menjewer anak setiap kali ia berbuat kesalahan, selain membuat anak menjadi lebih takut kepada anda, hal ini juga akan melahirkan jiwa pembohong pada anak, karena anak takut akan hukuman yang akan anda berikan dan membuatnya tidak akan mengakui kesalahan yang dibuatnya.

5. Bukan Contoh yang Baik

Ketika anda sering memberikan hukuman fisik pada anak, maka tanpa disadari anda telah memberikan sebuah pesan pada anak, bahwa hanya orang besar dan yang memiliki kekutan saja yang dapat bertindak agresif. Hal ini akan membuat anak memunculkan pemikiran negatif jangka panjang pada pola pikir anak yang beranggapan bahwa hanya orang dewasalah yang dapat bertindak kasar dan memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Selain itu, dengan memberikan hukuman fisik pada anak, anda mengirimkan pesan pada anak tanpa anda sadari bahwa kekerasan menjadi sebuah solusi yang tepat ketika anda berhadapan dengan masalah kehidupan. Perilaku agresif ini akan membuat anak ketakutan untuk mengakui kealahan yang diperbuatnya pada anda. Perlahan namun pasti, mereka akan menjadi anak yang sering berbohong pada anda.

Itulah dia beberapa dampak buruk yang bisa timbul ketika anda sering menjewer anak setiap kali ia melakukan kesalahan. Menjewer memang dikategorikan sebagai hukuman yang ringan dan tidak meninggalkan bekas luka pada tubuh anak, namun demikian hal ini bukanlah solusi yang baik untuk mendisiplinkan anak.

Anak Bandel tidak selalu harus di marahi

Anak-anak memang memiliki beragam aktivitas yang menggemaskan. Di usia ini untuk tumbuh kembangnya, tak jarang anak-anak bisa menjadi begitu aktif dalam melakukan berbagai kegiatan yang membuat mereka senang. Beberapa kegiatan seperti bernyanyi, menari, menggambar dan hal lainnya akan dilakukan oleh anak-anak sebagai kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kemampuan mereka.
Sebagai orang tua, terkadang kita akan senang jika anak memiliki beragam kegiatan yang membuatnya menjadi begitu aktif dan sangat cepat belajar. Hanya saja, ada kalanya, beberapa kegiatan yang dilakukan sering dikategorikan sebagai kegiatan 'bandel' karena memiliki resiko yang cukup bahaya baik untuk si anak maupun untuk lingkungannya.

Jika sudah begini, biasanya orang tua kerap dibuat pusing dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun sebagai orang tua yang bijak, kiranya anda harus dapat menghadapi si kecil dengan sabar dan bijak. Dan tahukah anda bahwa sebenarnya di balik aktivitas 'bandel' yang dilakukan, sebenarnya ada banyak hal yang juga ia pelajari.

Dengan demikian ini adalah contoh, jika ada beberapa aktivitas 'bandel' si kecil yang sebaiknya anda biarkan, jangan sesekali memarahi si kecil ketika mereka melakukan hal-hal tersebut, karena kegiatan yang mereka kerjakan sebenarnya merupakan bagian dari eksplorasi anak untuk belajar mengenal sesuatu, sebaliknya anda hanya perlu mengarahkan anak agar menjadi lebih baik. Seperti ketika mereka melakukan beberapa hal berikut.
1. Bergabung Untuk Memasak di Dapur
Anak-anak akan cenderung meniru dan mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya, termasuk dengan memasak. Ketika ibu sibuk di dapur, kemudian si kecil tiba-tiba bergabung dan ikut memasak, biasanya ibu akan memarahinya karena keadaan dapur yang menjadi tidak kondusif serta menjadi berantakan. Terlebih lagi, ketika si kecil menyentuh peralatan masak yang berbahaya, ibu akan panik dan langsung menyuruh si kecil untuk pergi dan memintanya bermain.
Namun, hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan, menghindarkan si kecil dari bahaya memang sudah tugas orang tua, hanya saja hal ini sebagai tanda jika si kecil ingin bereksplorasi dengan kreatifitasnya. Ibu tidak perlu mengusirnya untuk pergi, sebaliknya ajaklah ia untuk bergabung dan terimalah ia dengan senang, sementara untuk menjaga tetap aman selama di dapur, maka berikan peralatan masak yang lebih aman yang diperuntukkan untuk anak-anak. Selain itu ibu bisa memberikan batasan dan membuat peraturan agar si kecil tidak menyentuh barang-barang lain selain miliknya.
2. Mencoret-coret Dinding
Mendapati si kecil sering menulis di dinding dengan curat-coret yang ibu anggap tidak penting, kemudian ibu sering kesal karena dinding menjadi kotor dan berantakan adalah hal yang sebenarnya tidak usah dilakukan. Karena anak yang suka mencoret-coret dinding menandakan, anak yang ingin bereksplorasi dengan warna dan gambar.
Daripada memarahi dan memakinya, ada baiknya ibu sediakan media lain agar bakat anak tersalurkan dengan baik, misalkan ibu bisa menyediakan banyak kertas dan pensil warna agar hobinya menggambar dan mewarnai tidak ia tumpahkan pada dinding rumah. Dengan begitu si kecil tetap bisa bereksplorasi tanpa merusak keindahan rumah.
3. Kotor-kotoran
Kebanyakan anak tidak segan bermain di dalam ataupun di luar rumah dalam keadaan kotor atau kotor-kotoran. Namun hal ini kerap kali membuat para orang tua jengkel karena baju anak yang kotor membuat mereka nampak tidak beraturan. Hanya saja, sebaiknya, para orang tua tidak perlu khawatir dengan anak yang senang berkotor-kotoran karena anak sedang ingin beradaptasi dengan lingkungan dan menemukan apa yang ia sukai. Hal yang perlu ibu berikan pada anak adalah batasan dan peraturan agar anak tidak melakukan hal yang berbaya, mintalah anak untuk memakai sepatu anti air agar menjaga kakinya tetap bersih.
Demikian beberapa akitivitas yang ketika dilakukan anak sebaiknya tidak kita larang, namun harus kita awasi. Karena sejatinya, anak sedang dalam masa mengeksplorasi dan menemukan apa yang ia suka.